Senin, 13 Mei 2013

#Berbagi ala Tirta Anhari


Sekolah Rolling Door (Ketulusan adalah Kepahlawana)
Oleh : Tirta Anhari
-Tulisan Tertulis-

Saya mulai dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, zat suci yang menciptakan alam semesta dan seisinya, zat yang menciptakan cinta, zat yang menciptakan ketulusan, zat yang menciptakan mimpi dan harapan besar yang baik, zat yang menjaga kita ketika kita tertidur, zat yang menciptakan Adam dan keturunannya, zat yang menciptakan langit dan pelangi yang indah, zat yang menciptakan kasih sayang, zat yang menciptakan manusia, zat yang menciptakan cahaya, zat yang menciptakan harapan dan kekhawatiran, zat yang menciptakan udara untuk kita bernafas, zat yang Maha Pahlawan, zat yang menciptakan segalanya…

Terbesit dalam pikiran, pernah berkunjung ke sebuah desa terpencil diatas gunung, yang tak jauh dari ibukota. Terletak kurang lebih 70 km dari Jakarta yang secara geografis tidak jauh dari pusat peradaban Ibukota. Namanya kampung Gunung Batu III Desa Sukaharja Kecamatan Sukamakmur Kab. Bogor. Daerah ini memiliki banyak keragaman budaya, pandangan hidup, sosial ekonomi dsb, yang noteband adalah petani dan pekerja kasar. Setiap penduduknya mempunyai kemandirian dan daya juang yang tinggi, tidak seperti di “kota” yang ketergantungan, individualis bahkan kapitalis. Skip dari hal-hal yang menyudutkan salah satu pihak, kembali kepada topik awal bahwa di lokasi tersebut keindahan alam bumi Indonesia membuat kita sadar betapa indahnya alam ini yang dilukiskan sang Maha Pencipta. Semua lukisanNya membuat kita berfikir dan tenang, hal-hal yang menyejukkan hati dan melepas “dahaga” membuat udara yang masuk dalam paru-paru membersihkan seluruh oksigen dalam tubuh dari “jahat”nya udara ibukota. Kunjungan beberapa hari ini, dalam rangka program kerja organisasi di kampus yang termaksud bakti sosial dengan fokus pada pendidikan dan pengenalan teknologi. Memang payahnya saya, ya saya adalah tidak inisiatif mencari lokasi yang “luar biasa” sendiri, tetapi harus ada program dikampus. Tapi saya merasa beruntung “dipaksa” mencari lokasi tersebut. Alhamdulillah niat baik ini terealisasikan karena banyak dorongan dan dukungan serta terbentuknya niat dari hati yang tulus. Kembali ke topic awal, hal yang menjadi prioritas utama dalam diri adalah bagaimana mencari medan yang terbaik dalam program kali ini.

Kondisi awalnya dari tampak luar tampak lazim biasanya, ternyata semuanya berbeda dengan hipotesa awal. Bangunan yang terlihat tua, pemandangan alam sekitar yang sepi dan sejuk memperlihatkan kondisi tempat yang tenang, sangat kondusif dalam belajar mengajar. Dinding-dinding sekolah dan langit-langitnya yang sudah agak lapuk, atap-atap yang bocor dan panas jika terkena terik mentari, menggambarkan bangunan yang “terawat oleh alam”. Bergegas saya harus mencari rumah orang yang berada di balik semua ini. Namanya pak’ Arif orang biasanya menyebut pak ’e atau pak’guru di sekitar lokasi gunung batu. disebut pak’guru karena hanya dia dan segelintir orang yang lulusan sarjana dan orang yang pemerhati terhadap pendidikan. Awalnya beliau adalah seorang insinyur pertanian dari Jawa Timur yang di “lempar” pemerintah untuk menjadi kepala pertanian disana yang mengurus kurang lebih 20 hektar tanah. Setelah sekitar 5 tahun dari tahun 2001 dia melihat kondisi pendidikan dan budaya disekitar yang jauh sekali perbandingannya di ibukota yang noteband nya tidak jauh. Dari ratusan kepala keluarga hanya beberapa orang yang lulus SMP, sebagian besar lulus SD langsung kerja atau bahkan menikah!. Hal ini membuat saya terus mencari informasi karena penasaran saya akhirnya saya mewawancari pak’guru dari negeri sebrang (sebutan saya) sampai larut malam.

Saya lanjutkan cerita bahwa disana ternyata pandangan penduduk tentang pendidikan masih rendah, banyak orang tua yang berpandangan “untuk apa sekolah?”, “mau jadi apa setelah sekolah tinggi-tinggi?”,”mendingan kerja aja dan langsung nikah!?!”. Langsung saja pada intinnya bahwa maksimal pendidikan mereka adalah SD/MI untuk bisa dapat ijazah SD dan dapat membaca dan menulis, setelah SD sudah cukup. Bahkan, yang sampai SD saja hanya sedikit. Hal ini membuat saya dan teman-teman seperjuangan dikampus terkejut dan merasa perlu adanya perubahan. Saya tidak menyangka lokasi yang tidak jauh dari ibukota yang mewah dan megapolitan dan Negara yang kaya, tetapi masih ada lokasi di negaranya sendiri jauh dari pendidikan. UUD’45 dalam alineanya ada kata-kata “mencerdaskan kehidupan bangsa” bahkan dalam pasal 31 ayat 1-5 ada tulisan “pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara” wah! Bagaimana ini?!?!?. Apakah semua konsep tersebut hanyalah sebuah definisi? Apakah hanya sebuah retorika? Apakah hanya sebuah angan-angan?. Pendidikan yang tidak merata serta perhatian pemerintah yang kurang disana memperlihatkan perlu adanya evaluasi dari semua pihak, namun semuanya berawal dari sebuah ketulusan dan tanggung jawab.

Pak’ guru yang sudah dari tahun 2001 tinggal disana merasa “gerah” dengan kondisi tersebut. pada akhirnya tahun 2005 ia bersama istri dan rekan-rekan yang mempunyai pemikiran sama mencari lahan yang kosong untuk dijadikan sekolah. Bertemu dengan seorang ibu dari Jakarta yang mempunyai kios atau ruko ukuran kurang lebih 7mx6m yang sudah tak terawat, dengan negosiasi akhirnya kios tersebut diizinkan untuk dijadikan sekolah dengan izin omongan dan status aslinya adalah “pinjaman”. Dengan tekad ketulusan yang kuat, mereka berhasil menjadikan  “sekolah” tersebut kelas jauh dari sekolah yang ada dikecamatannya. Sekolah kelas jauh tersebut adalah MTs Annur yang berarti artinya cahaya. Semoga ini menjadi cahaya bagi penduduk sekitar, ujar pak’guru. hari-hari pertama sekolah mulai berjalan penduduk-penduduk yang pemikirannya masih terjebak dan ter-degradasi membuat selentingan atau julukan yang membuat panas telinga kepada sekolah tersebut seperti, “sekolah toko”, “sekolah pasar” “sekolah ruko” yang memang pintu kelasnya adalah rolling door dan lagi-lagi saya hampir menetekan air mata. Siswa-sisiwi yang belajar disana tidak membayar sepersen pun dan orang tua yang menyekolahkan anaknya pun tidak mau membayar. Pak’guru dan rekan-rekannya pun harus meyakinkan orang tua terlebih dahulu untuk menyekolahkan anaknya dengan jaminan tidak membayar sampai lulus. Bahkan ketika saya kerumah pak’guru ada siswa yang menangis karena disuruh bapaknya bekerja dibanding harus sekolah dengan pilihan “sekolah tidak naik motor atau kerja tapi dikasih motor!?!”. Memang pilihan yang cukup sulit apalagi sambil dimarahi. Heeuuh… saya merasa iba dan ingin sekali menemui orang tuanya, tapi apa daya tak ada yang bisa saya lakukan selain mengelus kepala.  Seiring berjalan waktu, akhirnya sampai saat ini sekolah tersebut meluluskan 2 angkatan dengan nilai terbaik dan mengalahkan sekolah yang ada dipusat!  subhanallah dan merasa terharu mendengarnya. Hingga akhirnya seorang ibu-ibu baik dari Jakarta tersebut mengizinkan pembangunan 2 lokal lagi untuk kelas 1, 2 nya dan bahkan pak’guru bersama istri dan rekannya mendirikan PAUD, MI dan MA sekaligus dengan bermodalkan ketulusan dan tekad walau berstatus “kelas jauh” dan tanah yang berstatus “pinjam”. Dengan kondisi sarana se-adanya dan tenaga pengajar yang tidak di gaji sepersen pun bermodalkan niat dan ketulusan yang kuat membuat kami iri dan heran, membuat kami bertanya apakah semangat mereka dan ketulusan mereka mampu kita lakukan?

Dengan celotehan yang tidak enak didengar dan pandangan penduduk yang kurang mendukung dan seiring berjalan waktu, akhirnya mindset penduduk berubah dengan beberapa murid yang bersekolah disana menjadi sarjana dan kembali mengabdi di desa tersebut. Hal ini membuat pengajar yang hanya terdiri 4 orang untuk semua jenjang pendidikan merasa semakin kuat, hingga pada tahun 2013 ini sekolah mulai ramai dengan bannyaknya orangtua yang menyekolahkan anaknya tersebut secara gratis. Saya kembali kekondisi penduduk yang taat dengan agama dan mayoritas muslim namun berbeda pandangan soal pendidikan. Mereka melihat pendidikan terpisah dengan agama, alias sekolah formal tidak akan bisa menjadikan ustad atau kyiai, padahal sekolah merupakan bagian dari Islam dan ajarannya. Hadits Nabi tentang “menuntut ilmu adalah kewajiban dari buaian hingga liang lahat” merupakan salah satu landasannya, bahkan masih banyak lagi. Sekolah formal dan sistem pendidikan di Negara adalah bagian dari mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mencapai sebuah tujuan yang universal bagi semua manusia dan alam seisinya untuk mencapai suatu kebahagiaan bersama. Sekolah formal atau kita sebut saja pendidikan adalah merupakan suatu cara untuk meningkatkan kecerdasan manusia, meningkatkan status sosial masyarakat, hak bagi setiap warga Negara, suatu hal yang bersifat wajib dan menjadi cara untuk menjadikan manusia seutuhnya yang berbudaya, mempunyai pribadi yang ber-akhlaq, jujur, disiplin, mandiri, berjiwa besar sehingga mampu menciptakan kehidupan yang damai dan saling bergotong-royong. Belajar (sekolah) bertujuan membuat manusia menjadi manusia yang baik dimata masyarakat, dimata Sang Pencipta agar memahami kebesaran-Nya sehingga akal mampu meresapi dan mensyukuri nikmat-Nya. Ya, singkatnya dengan cara menjadikan akal berfungsi secara normal. Akal akan berfungsi secara normal dengan pendidikan baik agama atau pendidikan yang formal ilmu sains. Tak lain tak bukan bertujuan agar manusia mendapatkan hidup yang layak dan menjadikan manusia mengerti tujuan hidup.

Saya kembali ceritakan seorang pribadi luar biasa disana berjuluk Pak’guru yang ber-insinyur pertanian bahkan tidak mampu meninggalkan gunung batu ketika ditawarkan bekerja di perusahaan asing diluar negeri karena kerinduan dan ketulusan untuk menguji diri dan menempa diri untuk mencapai kata ketulusan. Hal ini membuat saya kembali terharu dan merasa payah. Ya saya ulangi PAYAH. Pak’guru yang sudah terlihat kurus dan semua rekan guru terkesan menghabiskan waktu hidupnya untuk mengabdi pada daerah tempat tinggalnya dengan sebuah ketulusan dan peng-hambaan kepada Sang Pencipta Allah SWT. Hal ini membuat saya kembali “mengaca diri” !!! kita yang berada di ibukota, atau dimanapun yang mempunyai akses lebih, kemudahan dalam mendapatkan sesuatu, kemudahan dalam mendapatkan fasilitas hidup tidak mampu mencapai sebuah ketulusan seperti itu. Saya beranggapan bahwa ternyata ketidaksesuaian yang terjadi karena kita!, bukan karena dia, atau mereka. Saya mengajak kepada pembaca yang baik untuk tidak memposisikan diri menjadi orang yang paling benar. Saya mengajak kepada pembaca untuk memposisikan diri sebagai orang yang baik, dan ternyata sayapun juga sulit memposisikannya!

Kisah nyata ini ternyata begitu banyak terjadi disekitar kita. Namun, bagaimana kita mendapat dan mengambil hikmah dari semua ini. Sebuah pengorbanan tidak akan bisa disebut berkorban jika tidak dimulai dari sebuah ketulusan. Dan sebuah ketulusan tidak akan disebut ketulusan jika tidak dimulai dari sebuah keikhlasan. Seorang tokoh dan lokasi yang saya ceritakan dari awal, merupakan sebuah “pukulan besar” bagi kita bahwa kita masih menyia-nyiakan waktu, lupa untuk berbagi, membuang kesempatan, tidak bersyukur atas apa yang diberikan dan kita peroleh. Semua hal yang terjadi dalam hidup kita adalah akibat dari apa yang kita lakukan. Masihkah kita serakah? masihkah kita emosi? Masihkah kita bertengkar? Masihkah kita terjebak dengan sesuatu yang tidak penting?. Pertanyaan ini adalah suatu hal yang harus kita jawab bersama. Saya optimis, jika kita berpegangan tangan dan mau bersama berubah untuk menjadi yang lebih baik dan mulai dari hal yang kecil dari diri sendiri, maka tidaklah tidak mungkin semua mimpi dan harapan kita bersama akan terwujud. Mari bersama saling berbagi, saling nasehat menasehati untuk kebaikan. Kisah cerita nyata ini adalah sebuah aksi nyata dari ketulusan, manifestasi sebuah tulus dan kejernihan hati yang menciptakan sebuah KEPAHLAWANAN. 

wahai zat yang Maha pengasih jadikan kami orang yang pengasih yang sabar dan baik, tulus lagi ikhlas...

0 komentar:

Posting Komentar